Puasa Puasa Ramadhan Bulan Mulia. Antara Ramadhan, Bimbo dan Taufik Ismail

 

Assalamualaikum

Update bulan puasa, sambil menahan nafsu , sambil menuntut ilmu ( ngeblog kan sebagian dari menuntut ilmu dan menyiarkan, heee). Saat ini dibberapa stasiun TV kita sudah tersulap secara instan yang sebelumnya pada bulan biasa, banyak menyuarakan gaya hidup yang semrawut ( bisa dilihat dari tayangan gosip, sinetron yang cinta cintaan malahan lebih ke anarki) sekarang pada bulan suci nan mulia ini berubah 180 derajat menjadikan ladang syiar yang seluas luasnya, bertebaran tayangan spesial ramadhan, sinetron spesial ramadhan, bahkan kuisnya bertemakan ramadhan.

Tidaklah baik jika kita berprasangka buru dalam menghadapi perubahan ( sementara ini) , Alhamdulillah TV kita masih menghormati bulan ini. Toh meskipun acaranya ndak sepenuhnya islami ( banyak hal hal yang juga membuka aurat, ato bahkan ramadhan hanya sebatas judulnya) Tapi sikap kita tetep mendoakan semoga bisa menjadi manfaat bagi semuanya.

dari semua tayangan ramadhan ini ada beberapa acara yang menarik hati penulis ( saya maksudnya) , tayangan yang bener bener mensyiarkan islam, memberikan kesejukan iman bagi hati yang dahaga ( lebay nggak seh, kata katanya). beberapa dari acara tersebut antara lain : Kajian Islam di beberapa stasiun TV ( Damai Indonesiaku – TV One, Indahnya Sedekah – TPI) , KCB -RCTI, PPT dan Islam KTP – SCTV, dan satu yang menarik hati ane adalah sajadah panjang di TV One ( nggak sponsor loo)

Pertama kali ane melihat acara ini, hemm beda dengan acara musik laennya ( ane bilang acara musik, karena dari judulnya adalah lagu religi dari BIMBO yang diciptakan oleh Bapak Taufik Ismail) , sopan dan banyak diselingi tanya jawab dan tausiah gitu. Bimbo dan taufik ismail dapat memberikan hikmah hikmah dari lagu religi mereka.

Mungkin yang ane tonton tuhh episod pertama, dimana Bimbo dan Taufik Ismail diwawancarai oleh host ( kayaknya David Chalik) tentang perjalanan di dunia religi mereka.  Dari wawancara tersebut, Mereka ( Bimbo dan taufik Ismail) memberi warna berbeda pada dunia permusikan dimasa 70-80 an. dimana dominasi budaya barat dan liberal baru digandrunginya. Bagai oase digurun sahara, mereka membawa nuansa kedamaian hati ditengah luapan godaan kebebasan. Dari tangan mereka lah dapat didengungkan nada nada penyejuk kalbu hingga sekarang.  Hingga tiap ramadahn lagu mereka tetap menjadi alternatif renungan dengan media musik dan nada.

Mari kenali dulu mereka………………….

 

 

BIMBO

Bimbo adalah grup musik Indonesia yang berdiri pada 1966, dengan personil Sam Bimbo, Acil Bimbo, Jaka Bimbo dan Iin Parlina. Pada tahun 70-an, Bimbo menelurkan lagu-lagu berthema balada yang cenderung ‘menawarkan’ lirik-lirik puitisnya. Memasuki era 80-an Bimbo memberikan karya dengan dengan tema-temayang banyak bertemakan sosial, kritik pemerintah dan memberikan gebrakan pada tema religius dimasa dahulu yang sedang marak maraknya tema kebebasan  seperti Antara Kabul dan Beirut, Surat Untuk Reagan dan Brezhnev. Lagu-lagu religiusnya yang diawali dengan lagu Tuhan karya Sam Bimbo, Sajadah, dan lain-lain. Bimbo juga bekerja sama dengan Taufik Ismail Budayawan dan Master Puisi nasional kita  dalam berkolaborasi menciptakan lagu lagu religius yang apik dan mengena. Bimbo menciptakan musiknya sementara taufik ismail menyusun lirik nan puitisnya. hasil kolaborasinya yang dapat dinikmati hingga sekarang dan terus didendangkan pada bulan ramadhan antara lain : Puasa, Sajadah panjang, Ada anak bertanya pada bapaknya, dan masih banyak yang lainnya

Berikut salah satu hasil karya mereka, yang membuat hati saya merasakan indahnya ramadhan…

SAJADAH PANJANG

Ada sajadah panjang terbentang

Dari kaki buaian

Sampai ke tepi kuburan hamba

Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang

Hamba tunduk dan sujud

Di atas sajadah yang panjang ini

Di selingi sekedar interupsi

Reff:

Mencari rezeki mencari ilmu

Mengukur jalanan seharian

Begitu terdengar suara adzan

Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang

Hamba tunduk dan rukuk

Hamba sujud dan lepas kening hamba

Mengingat Dikau sepenuhnya

Mengingat Dikau sepenuhnya

PUASA

Puasa… puasa…

sebulan penuh puasa

Puasa… puasa…

ramadhan bulan mulia

Puasa… puasa..

wajib bagi yang beriman

Puasa… puasa..

sebetulnya menyehatkan

Sebulan menahan nafsu

menjauhi larangan Tuhan

meningkatkan ketaqwaan

Puasa dengan penuh ikhlas

Tingkatkan martabat diri

Lahir bathin suci kembali

Semoga Tuhan ridhoi

ibadah puasa kita di bulan Ramadhan

Taufik Ismail

Penyair yang menulis Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999), ini lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Pendiri Dewan Kesenian Jakarta (1968) ini berobsesi mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi.Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan, antara lain: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999).

Taufiq sudah bercita-cita jadi sastrawan sejak masih SMA di Pekalongan, Jawa Tengah. Kala itu, dia sudah mulai menulis sajak yang dimuat di majalah Mimbar Indonesia dan Kisah. Dia memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang suka membaca, sehingga dia sejak kecil sudah suka membaca. Kegemaran membacanya makin terpuaskan, ketika Taufiq menjadi penjaga perpustakaan Pelajar Islam Indonesia Pekalongan. Sambil menjaga perpustakaan, dia pun leluasa melahap karya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, sampai William Saroyan dan Karl May. Dia tidak hanya membaca buku sastra tetapi juga sejarah, politik, dan agama.

Kesukaan membacanya, tanpa disadari membuatnya menjadi mudah dan suka menulis. Ketertarikannya pada sastra semakin tumbuh tatkala dia sekolah di SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS. Dia mendapat kesempatan sekolah di situ, berkat beasiswa program pertukaran pelajar American Field Service International Scholarship. Di sana dia mengenal karya Robert Frost, Edgar Allan Poe, Walt Whitman. Dia sanga menyukai novel Hemingway The Old Man and The Sea.

Secara umum, tema yang diangkat  Budayawan dan juga Kyai ini adalah universal, bisa bertema kritik sosial, lingkungan hidup, budaya dan kehidupan sehari hari, dan juga tentang syiar islam.  Jika penyair Muslim lain menyuarakan dakwah lewat puisinya secara transparan, Taufiq justru memilihnya untuk lebih tersimpan. “Zauq atau rasa agama yang saya warisi dari kedua orang tua, selalu menjadi inspirasi dan selalu saya masukkan ke dalam puisi-puisi saya,” ungkapnya berterus terang. “Jadi.. di sana banyak sentuhan tasawuf yang dikemas secara diam-diam. Seperti puisi tentang ulang tahun itu. Bukankah kecintaan terhadap seorang ibu, merupakan suatu keajaiban yang sangat luar biasa,” tambahnya mencontohkan.

 

 

Semoga acara acara semacam diatas bisa memberikan udara sejuk dibulan ramadhan ini, sebagai salah satu solusi acara yang menghibur plus mendidik, mengajarkan nilai nilai islami dan makin mendekatkan kita kepada Allah SWT, amienn