Pancasila Belum Jadi Sistem Berpikir

 Hampir seluruh rakyat memahami Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Namun, belumlah banyak yang betul-betul menjadikan Pancasila sebagai sistem atau cara berpikir dalam berbagai dimensi kehidupan.

Demikian dikatakan Ketua Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan Marzuki Darusman dan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Franz Magnis-Suseno pada pengukuhan gelar Doktor Honoris Causa (HC) pada Marzuki, Sabtu (15/11) di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung. Franz sebagai promotor.

Menurut Marzuki, Pancasila saat ini tengah menghadapi tantangan yang justru berasal dari dirinya sendiri. Pancasila sering disebut ideologi, tetapi realitasnya justru kerap hanya dijadikan jargon pembentuk kekuasaan. Sebagai ideologi, dirasakan saat ini Pancasila belum menjadi penuntun rakyatnya.

”Berbicara kemiskinan dan beragam permasalahan bangsa saat ini, misalnya, itu sering kali tanpa dihubungkan dengan Pancasila. Jika ini yang terjadi, kemiskinan itu seolah hanya jadi urusan menjengkelkan, mengganggu ketenangan teknokrat. Beda jika dikaitkan dengan Pancasila. Ini (kemiskinan) semata akibat dari kebijakan. Itu pun tidak akan jadi hanya kebijakan tambahan,” tuturnya.

Persoalan penegakan hak asasi manusia (HAM), di lain pihak, seolah ditaruh dalam posisi yang berseberangan dan mulai menggoyahkan Pancasila. Seolah-olah tengah terjadi persaingan antara HAM dan Pancasila. Ideologi Pancasila seolah-olah tak relevan untuk meletakkan pengertian tentang perumusan kekuasaan dan integrasi HAM dalam sistem hukum nasional.

Dalam kondisi ini, perlu dilakukan transformasi. Pancasila, kata Marzuki, perlu direideologikan agar tetap relevan. Tak bisa sekadar direvitalisasi.

Pancasila dalam serangan

Franz Magnis berpandangan, nilai Pancasila sebetulnya sangatlah baik untuk dijadikan pegangan mengatasi ketegangan sosial dan pelbagai persoalan kebangsaan saat ini. ”Pancasila kan bernapaskan pluralisme. Sementara pluralisme ini kini tengah dalam serangan pelbagai pihak yang eksklusif, yang mempunyai pandangan dan ingin memaksakannya,” ucapnya.

Ia melihat, mengutip pemikiran almarhum Nicolaus Driyarkara, inti dari Pancasila sebetulnya adalah sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tanpa adanya pemahaman yang baik dari prinsip keadilan dan keberadaban ini, pemaknaan empat sila lainnya menjadi hambar.

”Jika tidak adil dan beradab, kita tidak hanya kehilangan nilai, tetapi juga jadi ancaman bersama. Menjadi monster,” ucapnya.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, ia mencontohkan, jika tanpa ada makna berabad, akan menghalalkan kekerasan dan mengakibatkan benturan dengan warga negara lain. Ini jahat

 

sumber : kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s