Perayaan Asyura Syiah benarkah dalam Syariat? Bukan begini cara menghormati Ahlul Bayt

Assalamuaiakum
temen Banin semua dan seluruh Umat Muslim dipenjuru tanah air.kemarin saya nonton TV one sedang berita kala itu, ehh saya ngeliat perayaan Asyura oleh kaum syiah Irak dan Iran. saya heran akhi semua, ditayangkan mereka melukai diri mereka sendiri. Dari Anak anak hingga kaum tua, mereka melakukan Penyiksaan diri untuk menghormati kematian Husein cucu Rasulullah Di Padang Karbal saat itu. Yang ada di benak ane sekarang nihh emang gini cara menghormati n mengenang kematian seorang sahabat n malah cucu Nabi. Dengan Melukai diri sendiri kah?
coba pikir apa yang diucapkan Husein Bin Ali Ra kepada kaumnya, orang awam juga tahu bahwa Pasti sangat sedih sekali melihat kaumnya melakukan ritual yang memang tidak ada sebab musabab syariatnya.Setahu saya yang dicontohkan Rasul pada hari Asyura adalah bulan agung dan disunahkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam.

ni pendapat Ibnu Katsir mengenai sesatnya Perayaan ini

“Setiap muslim akan merasa sedih atas terbunuhnya Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Sesungguhnya dia adalah salah seorang dari generasi terkemuka kaum muslimin, juga salah seorang ulama di kalangan para Sahabat, dan anak dari putri kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah seorang ahli ibadah, seorang pemberani dan pemurah. Tentang apa yang dilakukan Syiah (di hari ‘Asyura) seperti bersedih-sedih dan berkeluh-kesah merupakan tindakan tidak pantas. Boleh jadi, itu mereka lakukan adalah karena pura-pura dan riya. Sesungguhnya ayah Husain (‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu ‘anhuma) jauh lebih afdhal (utama) darinya. Beliau juga meninggal dalam keadaan terbunuh. Akan tetapi, mereka tidak menjadikan hari kematiannya sebagai hari berkabung layaknya hari kematian Husain Radhiyallahu ‘anhuma (yang diperingati). ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu ‘anhu terbunuh pada hari Jum’at saat keluar rumah mau melaksanakan shalat Subuh, pada tanggal tujuh belas Ramadhan, tahun 40 H”

secara hukum asal pula menyakiti diri sendiri adalah haram, maka perayaan duka “penyiksaan diri inilah “tidak dibenarkan.Untuk mengenang seorang sahabat Rasul lebih utamanya kita kalau mencontoh kearifan akhlak dan budi pekerti serta ibadahnya. Kita bermuhasabah dan selalu mendoakan para kekasih allah tersebut. bukan suatu kekejaman luar biasa ini.
Wallu A’lam Bi sowab

15 thoughts on “Perayaan Asyura Syiah benarkah dalam Syariat? Bukan begini cara menghormati Ahlul Bayt

  1. YA MAS SAYA BACA DULU, TAPI KAN PADA DASARNYA kita mengingat keutamaan MEREKA DENGAN PENYIKSAAN DIRI APAKAH DIBENARKAN????

  2. pelajari dulu sejarah yang sebenarnya bos, baru berkomentar.
    Jangan cuma baru baca buku beberapa referensi aja, udah bisa menjastifikasi.

  3. oke sob, ane insyaAllah dah membaca sejarah islam tu, trus lihat kasat mata bagaimana ritual itu apakah diterima

  4. Selama 14 abad ini, para pengikut Ahlul Bait tiap tahunnya selalu mengenang peristiwa heroik Asyura yang sangat tragis. Mereka mengenang kembali lembaran demi lembaran sejarah yang menghiasi darah-darah suci yang tertumpah di Karbala. Mereka menangis, terkadang sampai histeris. Di negeri-negeri muslim yang tradisi Syiah-nya sudah sangat kental, Asyura berarti upacara-upacara duka dengan cara turun ke jalan atau hadir di majelis-majelis duka cita.
    Banyak kaum muslimin dunia yang belum mengenal madzhab Ahlul Bait ini yang mempertanyakan, mengapa orang-orang Syiah tiap tahun mengenang peristiwa tragis ini? Mengapa kematian sekelompok orang yang sudah berlalu sekian abad dari zaman kita masih terus ditangisi? Mengapa perasaan benci terhadap para pembantai keluarga Nabi masih dipelihara oleh orang-orang Syiah? Bukankah kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya melupakan masa lalu dan memaafkan segala kesalahan mereka?
    Sejak Imam Husein a.s. gugur di Karbala dan kepemimpinan atas ummat Islam atau imamah berpindah tangan kepada puteranya Imam Ali bin Husein As-Sajjad a.s, mengenang peristiwa pahit Karbala itu sudah diperintahkan oleh para imam. Dalam berbagai kesempatan, para imam selalu meminta para penyair dan orator terkenal di zamannya untuk membacakan kembali berbagai kisah yang berlangsung pada tanggal 10 Muharam tahun ke-61 Hijriah tersebut. Kita bisa mengemukakan sejumlah hal yang menyebabkan para imam sampai menyuruh para pengikutnya agar menghidupkan terus peristiwa Karbala dalam ingatan mereka.
    Pertama, peringatan Asyura bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang mendambakan keadilan untuk melakukan gerakan kebangkitan. Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, situasi represif yang ada pada zaman khilafah Yazid bin Mua’awiyah sudah sedemikian buruknya sampai-sampai, saat menerima ancaman dari Yazid agar membaiatnya sebagai khalifah, Imam Husein mengatakan, “Kita harus melupakan Islam untuk selama-lamanya jika kaum muslimin harus diperintah oleh orang semacam Yazid”.
    Berbagai ciri-ciri masa jahiliah yang hendak dikembalikan lagi oleh Bani Umayyah mencapai klimaksnya pada zaman pemerintahan Yazid. Saat itu, Islam betul-betul tinggal nama. Sedangkan perilaku keseharian yang dipraktikkan oleh mereka yang mengaku sebagai pemimpin ummat Islam sudah sangat mirip dengan perilaku para tokoh Qureisy di zaman jahiliah dulu. Fanatisme terhadap kaumnya sendiri, taklid buta, dibuangnya rasa kemanusiaan, dan dicampakkannya ilmu pengetahuan sudah menjadi perilaku sehari-hari kalangan istana Syam tempat Yazid memerintah. Hal itu sangat terasa kontras dengan masa beberapa dekade sebelumnya, saat pemerintahan Islam langsung dipegang oleh Rasulullah SAWW.
    Kembalinya masa gelap jahiliah kepada kehidupan masyarakat adalah sebuah proses sejarah yang terus berulang dengan instrumen yang berbeda-beda. Di setiap saat, selalu saja ada gerakan yang dilakukan orang-orang jahat untuk mengembalikan masa jahiliah. Dari sini, panji kebangkitan Asyura yang dipancangkan oleh Imam Husein a.s. akan menjadi inspirasi yang tiada habisnya bagi para pendamba keadilan. Mereka bisa melihat bahwa penegakan keadilan itu harus dilakukan meskipun itu berarti hilangnya nyawa diri sendiri dan sejumlah besar keluarga.
    Di depan pasukan Ibnu Ziyad yang kemudian menjadi pasukan pembantainya di Karbala, Imam Husein mengatakan demikian.
    “Wahai ummat Islam, dengarlah kata-kataku. Aku pernah mendengar kakekku, Muhamad SAWW, berkata bahwa selalu saja ada pemimpin yang mengaku beragama Islam tetapi berperilaku represif. Ia merobek-robek janji yang telah dibuatnya dengan Allah. Ia menentang sunnah Rasululllah. Ia juga memerintah dengan cara-cara kejam dan maksiat. Siapapun yang melihat pemimpin semacam itu tetapi ia tidak melakukan perlawanan dengan tindakan maupun hanya sekedar kata-kata, maka Allah akan membangkitkannya kelak di hari kiamat bersama pemimpin yang zhalim tersebut”.
    Peristiwa Asyura juga memberikan inspirasi kepada para pejuang keadilan bahwa dalam pandangan Allah, kemenangan yang hakiki terkadang tidak bisa tampak pada hal-hal yang sifatnya lahiriah. Pada peristiwa Asyura, Imam Husein dan sahabat-sahabatnya malah terbantai. Akan tetapi, kekalahan secara lahiriah itu malah merupakan sebuah kemenangan hakiki. Dalam Islam, kemenangan hakiki akan diperoleh ketika seseorang mengalahkan hawa nafsu dan bisikan setan hingga ia mampu melaksanakan perintah Ilahi.
    Saat itu pertanyaan-pertanyaan kritis mulai mengemuka: bagaimana mungkin seorang yang mengklaim diri sebagai khalifah kaum muslimin, akan tetapi berani membantai keluarga Rasulullah? Dan ini bukanlah peperangan, tepatnya adalah pembantaian spektakuler, 72 orang melawan pasukan Ibnu Ziyad yang jumlahnya mencapai puluhan ribu. Dan kebenaran tidak mungkin ada pada keduanya, kebenaran hanya ada satu diantara keduanya.
    Inilah yang bisa kita saksikan dari kebangkitan revolusi Islam di Iran pimpinan Imam Khomeini. Kaum revolusioner Iran mampu menumbangkan rezim despotik Syah dengan menyandarkan inspirasi mereka kepada perjuangan revolusioner Imam Husein di Karbala. Sejarah mencatat bahwa perlawanan fisik Imam Khomeini dan sahabat-sahabat mulai menggelegak sejak Imam ditahan oleh pihak keamananan kerajaan pada tanggal 5 Juni 1963, dan itu hanya terjadi tiga hari setelah para ulama Iran menyerukan peringatan duka Asyura secara nasional.
    Dari Libanon selatan, para pejuang Hizbullah juga berhasil mengusir tentara penjajah Israel yang didukung oleh peralatan militer super canggih. Para pejuang Hizbullah yang mayoritasnya bermadzhab Ahlul Bait itu mengaku bahwa secara mental, mereka tidak pernah kelelahan ketika memperjuangan sesuatu yang sangat berat itu, karena menurut mereka, hal yang jauh lebih berat pernah di ditanggung oleh panutan mereka, yaitu Imam Husein a.s. dan sahabat-sahabatnya di Karbala.
    Para pejuang keadilan akan memiliki ketahanan mental dan tidak akan mengenal lelah dalam perjuangan mereka jika mereka menghidupkan terus peristiwa Asyura dalam benak mereka. Setiap detik dari peristiwa yang terjadi di Karbala adalah elegi kepiluan yang sangat sulit ditandingi oleh peristiwa apapun di sepanjang sejarah ummat manusia. Karena itu, ketika berhadapan dengan hal-hal yang sangat sulit sekalipun, seorang pejuang yang terus menghidupkan Asyura dalam benaknya tidak akan pernah merasa putus asa karena yang dialami oleh Imam Husein dan keluarganya di Karbala akan tetap jauh lebih sulit dibandingkan dengan yang dialaminya.
    Inspirasi untuk tabah dengan cara mengingat terus tragedi Karbala dalam kehidupan sehari-haripun, seorang yang terus mengenang peristiwa Asyura pasti akan mampu bersikap resistan di hadapan segala macam kesulitan hidupnya.
    Hal lain yang sering menjadi bahan pertanyaan dari orang-orang yang belum mengenal hakikat madzhab Ahlul Bait adalah terkait dengan masalah mengapa kita harus terus memelihara rasa benci terhadap para pembantai keluarga rasulullah di Padang Karbala yang peristiwanya terjadi belasan abad yang lalu? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa hal yang harus dipahami. Pertama, kebencian terhadap perbuatan buruk haruslah dipelihara terus oleh seorang muslim. Inilah ajaran Al-Quran dan Sunnah Rasul. Kedua, ada makhluk-makhluk tertentu di dunia yang menjadi manifestasi utuh dari perbuatan buruk. Untuk itu, Al-Quran dan Sunnah Nabi juga mengajarkan kepada kita untuk membenci makhluk tersebut. Contoh paling jelas untuk hal ini adalah makhluk bernama Iblis. Sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk memelihara kebencian Iblis dan segala perbuatannya.
    Pemeliharan kebencian terhadap keburukan dan simbol keburukan itu diajarkan oleh agama supaya kita tidak tidak terjatuh ke dalam perbuatan buruk itu. Yang menjadi pertanyaan kita sekarang ini, apakah mungkin makhluk yang menjadi simbol perbuatan buruk itu berupa manusia? Dengan kalimat lain, mungkinkah ada manusia yang menjadi simbol perbuatan buruk tersebut sehingga ia dan segala perbuatannya harus kita benci? Dalam sejarah ummat manusia Al-Quran memperkenalkan tokoh-tokoh jahat semacam Qabil (putera Nabi Adam), Namrud, Firaun, dll. Semasa Rasul hidup, Al-Quran juga melaknat sejumlah orang munafik karena perbuatan buruk mereka.
    Dari sisi ini, kita bisa mengatakan bahwa pemeliharaan kebencian terhadap perbuatan jahat dan para pelaku perbuatan itu sebagaimana yang digelar oleh para pembantai keluarga Nabi di Padang Karbala bukan hanya tidak bertentangan dengan ajaran agama, melainkan malah sebuah ajaran abadi yang harus terus kita hidupkan. Itu semua karena karakteristik para pembantai keluarga Imam Husein dan sahabat-sahabatnya sama dengan karakteristik manusia-manusia yang dilaknat oleh Al-Quran.
    Masalah terakhir yang menjadi pembahasan kita sekarang ini terkait dengan ratapan dan tangisan para pecinta Ahlul Bait saat mengenang peristiwa Asyura. Ada sejumlah kalangan yang mempertanyakan, mengapa tragedi ini sampai harus ditangisi padahal peristiwanya terjadi ratusan tahun silam? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama harus diingat bahwa menangis adalah reaksi refleks seseorang terhadap situasi emosional tertentu yang ada dalam jiwanya. Episode demi episode dalam peristiwa Karbala memang sangat mengiris hati. Karenanya, butiran air yang menetes dari mata seseorang yang tersentuh hatinya ketika mengenang peristiwa Asyura adalah sebuah proses fisiologis yang sangat alami.
    Akhir-akhir ini, para psikolog menyodorkan teori tangisan sebagai bentuk katarsis atau pelepasan emosi yang menyumbat, sehingga kondisi emosional kita yang terkadang berubah-ubah karena situasi tertentu bisa kembali seimbang lewat tangisan tersebut. Para psikolog lainnya juga berbicara mengenai butiran air mata yang bisa melembutkan hati. Walhasil, tangisan pada dasarnya bukanlah sesuatu yang buruk. (hanyalah segelintir orang saja yang menyiksa diri sampai berdarah-darah lalu di ekspos besar-besaran lalu menuduh inilah ajaran kesesatan syiah)
    Ada sejumlah pihak yang menyebut tangisan sebagai simbol kecengengan atau malah simbol ketidakrelaan kita atas kehendak Allah. Pernyataan ini memang bisa dibenarkan dalam sejumlah kasus. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan tangisan terhadap peristiwa Asyura, pernyataan tadi menjadi tidak relevan. Menangisi Asyura jelas bukan sebuah kecengengan. Justru kalau ada orang yang mengetahui adanya tragedi dahsyat ini kemudian ia sama sekali tidak bereaksi, itu menunjukkan bahwa hatinya sudah sekeras batu. Meratapi tragedi Karbala juga tidak bisa dikategorikan sebagai ketidakrelaan atas kehendak Allah karena yang tidak direlakan oleh para pecinta Ahlul bait adalah perbuatan bengis Yazid dan tentaranya, yang juga sama sekali tidak diridhoi Allah SWT.
    Untuk itu mari kita mempelajari sejarah peristiwa Karbala ini dengan sebaik-baiknya. Sisihkan sedikit waktu untuk mempelajari kehidupan Imam Husein dan perjuangan beliau ini. Waktu yang berjalan detik demi detik di Karbala, semuanya memberikan pesan dan petunjuk. Tiap wajah di Karbala mengekspresikan suatu pesan. Di Karbala, manusia terbagi dua kelompok dan masing-masing memainkan perannya. Yang satu memerankan kebaikan dan keindahan, sedangkan yang lain memerankan kejahatan dan keburukan. Masing-masing telah memainkan peran mereka dengan sangat sempurna. Tragedi Karbala adalah cermin bagi semua manusia. Setiap orang dapat menyaksikan gambaran dirinya di Karbala

    Assalamu ‘alaika yaa Abaa Abdillah wa ‘alal arwaahil ladzii hallat bifinaa-ik.

  5. Terima kasih saudaraku,semoga Allah tawankan dihati kita kecintaan kepada beliauSAWW,Ahlulbatnya as,dan para sahabat setianya yang terpilih ra

    Allaahumma shollie ‘alaa muhammad wa aalih

  6. Pernahkah Rasulullah saat di lempari, di ludahi atau lainnya,…. pernahkah beliau mengeluarkan hadist untuk umatnya sekarang untuk membenci pelaku tsb,….?? atau sebaliknya. peristiwa ini udah terjadi 1400 thn lalu….dan kebenciaan ini..??

  7. buat iparmoe Rasul gak pernah mengeluarkan hadits utuk membenci ok lah…cintai abu jahal, mua’wiyah, yazid dan semoga orang yg mencintai benar2 akan dikumpulkan dgn g dicintai…

  8. sebuah kaum yang apabila hanya dilihat keburukannya maka akan buruk selamanya,tapi kalo yang dilihat baiknya walaupun sekecil apapun kebaikan dari perilaku kaum tersebut dan tertutup tembok yang begitu besar maka dengan sendirinya akan terlihat baek…jadi….positif thinking aja mas bro, mencari ilmu yang sebanyak2nya agar tak hanya cuman bisa berbicara tapi tak benar dalam melakukannya..
    sekian dan terimakasih

  9. si penulis ternyate bahlol !!!
    tau arti puase kgk ?
    puase ntu artinye kite bersyukur
    moso kite bersyukur pade saat al husain di bantai ?
    udehlah jgn sok teong masalah syiah klw cuma paham sampul doank
    mau peringati haul imam Husain aje di larang, yg ane gk abis pikir neh haulnye kiyai di rayain, taon baru di gembar gemborkan, hari sumpah pemuda selalu di inget, ini orang mao peringati cucu Nabi dilarang ?
    wadoooohh kebalik neh yg ahmaq !
    ane mao nanya neh ame semuanye, ntu yg putus cinta ame kekasihnya trus bunuh diri dgn cara nyemplung dr lantai 20 tuh pegimane ceritanye
    karna cintanye begtu besar lalu die nyemplung dr lantai 20 pan ?
    cuma karna cinte ame dunie aje begonoh, pegimane dengan cucu kesayangan Nabi ?
    jadi yg kgk paham masalah syiah ahsan kita diam aja
    yg sakit ntu mereka bukan nte orang
    klw pun mereka salah, ntu urusan mereka dgn Tuhannya…
    salam perdamaian

  10. Ya Allah beginilah ketika hati sudah menjadi keras…

    punya akal sehat nda ya orang2 yg berbuat seperti ini., tunjukan saja gambarx yg sadispun mungkin mereka tetap katakan bahwa ritual yg mereka laksanakan itu baik…

    Pernahkah Ulama2 kalian (Syi’ah) melakukan seperti itu.,???

    Mereka cuman menyuruh kamu melakukan sedangkan mereka tidak….

    Pernakah Imam Ali RA, melakukan hal semacam ini.,???
    Ajaran yg sesat dan menyesatkan ko diikuti.,???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s